Senin, 15 Juli 2013

Euforia Ramadhan

Marhaban yaa ramadhan, mohon maaf lahir batin
Itulah sepenggal kalimat yang akhir-akhir ini berbanjiran di social media maupun telepon genggam (baca:HP) melalui Short Massage (meski kadang pesannya panjang). Sebelum pesan maaf tersebut di send all , sebagai refleksi masyarakat yang pro subsidi tentunya kita tidak lupa memencet tanda “bintang” diikuti deretan angka keramat dan diakhiri tanda “pagar” dengan harapan mendapat  injeksi bonus dari operator.  Tak mau kalah dengan euforia moment penuh ampunan ini, sang operatorpun segera membalasnya dengan kata “maaf, saldo anda tidak mencukupi …” hehehe.
Atmosfer Kemeriahan ramadhan memang terasa, hal ini bisa kita lihat mulai dari latahnya artis-artis memakai busana muslim, band-band yang berlomba-lomba membuat album religi, petasan di sana sini, grafik statistik yang tegak lurus antara penghuni masjid dan pusat perbelanjaan, sampai pengumuman sandal hilang di masjid dan lain sebagainya. Namun sadar atau tidak, sebagian dari kita mengaktualisasikan moment ini  tidak lagi sesuai dengan proporsinya.
Misalnya puasa bertendensi sebagai hari bermalas-malasan, contoh kasusnya seorang atasan memberi perintah ke Udin, karyawannya;
“ Tolong pindahkan berkas yang ada di lemari ke meja saya, Din”
“Maaf pak, saya lagi tidak bertenaga, mana waktu berbuka masih lama pak”
“ Ntar aku traktir buka bareng deh sebagai imbalannya”
“wahh, oke deh pak.. dari pada budget baju lebaran berkurang untuk beli es pallubutung”
“oke, kebetulan hari ini giliran saya menyumbang menu buka puasa di masjid, nanti kamu ke sana”
Udin: $#@)*&&???

Contoh lain, di jalan raya helm standar bermetamorfosis menjadi peci yang sama sekali tanpa logo “SNI”, dengan  alasan bangga sebagai umat muslim yang memeriahkan datangnya bulan ramadhan ini.
PRIIITTT …
“Mana STNK dan Sim kamu ana’ muda?” tanya pak polisi kepada pengendara motor berpeci.
“Tabe', ini pak”
"Tau apa kesalahan kamu?"
"Lelaki memang selalu salah di mata perempuan pak. Eh, tapi bapak kan bukan perempuan?
“Kamu telah melanggar, karena tidak memakai helm”
“wahh bapak bagaimana?,  di identitas saya jelas kalo saya ini Islam. nah ini kan bulan puasa, tidak salah dong saya pake peci,  bapak berbaik hatilah dan tunjukan toleransi bapak di bulan suci ini”
“tapi tidak seharusnya kamu mengabaikan keselamatan”
“iya sih pak, tapi saya buru-buru nih mau taraweh”
“ya sudah, kalo begitu kamu pake helm saya terus peci kamu buat saya, kalo perlu tukar tambah saja.”
“ kalo saya disangka anggota polisi, bagaimana pak?”
“ ya jangan ngaku.”
“kalo dipaksa ngaku?”
“ngaku saja kamu anggota, tapi anggota perpustakaan, gitu aja kok repot”
“86 deh pak, tapi mau nanya, mall panakkukang ke arah mana yah Pak?
“lho, katanya mau taraweh?”
“Kan ada mushallahnya,  jadi tarawehnya di sana saja sekalian ngimamin do'i”

Ckckckck.

Tak kalah serunya, pertengahan dan akhir bulan puasa, penghuni masjid mulai bertransmigrasi ke  pusat perbelanjaan dengan alasan pengaplikasian lagu yang dipopulerkan oleh Dhea Ananda, yang kalo tidak salah  liriknya begini “baju baru alhamdulillah, tuk dipakai di hari raya… tak punya pun tak apa-apa masih banyak jemuran tetangga” (nahhh lho???).

Kisah dan peristiwa di atas hanyalah sebuah penjabaran kasar yang  tidak bisa kita nafikan sebagai manusia yang tak lepas dari dinamika dan kesalahan hidup. Coretan ini hadir  bukan menghakimi atau apalah namanya, karena terlepas dari itu mungkin sayalah salah satu tersangka utama dari sepenggal kisah di atas. hehehe tabe’ di?

Sabtu, 13 Juli 2013

Si Pria bertopi hitam


Kala itu senja menjelang maghrib… (nulis sambil memalingkan wajah keatas, dengan sudut kemiringan 450).
Tepatnya ketika saya pulang dari pertemuan salah satu komunitas yang tak dianggap  namun percaya dan yakin bahwa kami lebih keren dibanding personil band korea. Yah sebut saja komunitas atlit lompat karung, keren kan? *Kibas poni*
Saat itu hati saya penuh suka cita, perasaan yang ini hampir sama  saat saya mendapat penghargaan gaya lompat karung paling elegan di komunitas tersebut. Saking senangnya, saya yang dulunya takut sama kucing kecil, malah senyum sambil ngedip2kan mata ke kucing yang ada di depan gedung pertemuan. Alhasil kucing tersebut malah menjerit ketakutan kemudian berlari ke jalan raya hingga nyaris tertabrak odong2. Percaya gak percaya, kejadian tersebut diluar dugaan para pengamat cuaca, bahkan pengamat politik skalipun. Luar biasaaaa…
                                          
Makassar mulai gelap, saya masih berdiri di depan gedung, tepatnya dipinggir jalan raya.
“apa kita bikin disitu, belum pulangki?” tanya seorang teman.
“iyye, sebentar... lagi ada saya tunggu”. Jawabku
“owh ada tommi yang jemputki skrng? Cieee, kalo begitu saya duluan yah”
Pertanyannya seakan mendiskreditkan statusku yang slama ini mereka judge sebagai J***** (maaf, bkn jablay). 
Belum sempat saya meminta klarifikasi, teman saya si anu itu (nama disamarkan) kemudian ngebut begitu saja meninggalkanku. Agak kesal juga sih, tapi kekesalan itu terhenti saat mataku menangkap keberadaan seorang pria bertopi hitam dari ujung tikungan jalan. Itu dia sdh datang, kataku dalam hati. kusambut ia dengan senyuman sambil berlari kecil ke arahnya (disertai efek angin ala film2 india).
Penasaran apa yang terjadi? Jangan kemana2 saya akan kembali setelah hitungan ke-3

Satu…

Tigaa…
Saya dan si pria bertopi kemudian saling berhadapan. Ada pancaran kebahagian dari raut wajah kami, aku tersenyum dia balas tersenyum, aku melambai diapun melambai, aku salto dia malah tertawa… ehhh. 
Oh iya sebut saja namanya Syarif.
“wah makin manis aja gue.” Kataku.
“hahah, saya iyya ndak maniska? Padahal saya pakemi lagi topi pemberianta.”
“heheh, kalo kita gagahki. wah, inimi pesananku daeng? Makasih banyak, maaf sudah merepotkan!”
“Tidak merepotkan sama skaliji. Inilah berkahnya ramadhan, saling memberi saling menerima. Saya beri kamu ikan kering dan mangga muda, trus saya terima uangnya. Hahaha” Canda daeng syarif.

Itulah yang membuat perasaanku penuh suka cita saat itu. Alasan pertama, muslim/muslimah mana yang tidak merasakan suka cita saat diberi umur panjang bertemu kembali Bulan Ramadhan?. Kedua, kebayang kan bagaimana rasanya saat sahur pertama dengan menu kesukaan kita? Ikan kering racak manggaa cuy…

Di Kios kecil daeng syarif-lah, awal mula saya bernegosiasi tentang perburuan ikan kering dan mangga muda.  Menurutku tempat nongkrong paling asyik saat turun atau nunggu angkutan umum yah di situ, di pinggir jalan, tepatnya kios daeng syarif yang penuh keramahan dan kekeluargaan. Terlebih lagi, kota yg katanya go green malah krisis pohon tempat berteduh. jadi jangan heran kalo kebanyakan orang memilih ngademnya di mall2. Saya sempat berpikir jangan2 ini Market conspiracy temanG? Tp, ah sudahlah... sy masih dangkal dan sok untuk mengkaji hal macam itu. Hehehe

Yups, dialah daeng syarif, lelaki tua yang penuh semangat dan pantang menyerah dalam menghidupi anak2 dan istrinya. Keberkahan awal bulanpun datang dari ulurantangannya. Untung ada daeng syarif, terima kasih daeng syarif :D.

*Haapppy Ramadhaaann, and  it's time to Saaaaaahhhhuuuuuuuuuuuuurrrrrrrrrrrrrrrrrr :)



Pun, di bulan ini, dibuka pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan diikat serta dirantai setan-setan (sehingga sulit menggoda dan mengganggu orang yang berpuasa). Di bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Akan tetapi, barang siapa yang terhalang mendapatkan kebaikan di bulan ini, maka sungguh merugilah ia. (HR Imam Ahmad dari Abu Hurairah).

Sebenarnya, banyak hal menarik yang ingin ku tulis tentang daeng syarif dan keluarga. Tapi apa boleh buat kayaknya raga sudah stengah hidup, sperempat lapar dan sperampat waras.