Rabu, 20 November 2013

Antara Ulang Tahun dan Mengulang Tahun


Ulang tahun… berulang tahun, mengulang tahun… ulang berarti kembali lagi seperti semula …
Saya sempat mencaci kata “ulang tahun”. mungkin karena saya manusia ambisius yang sok tidak ingin terjebak pd posisi stagnan yang itu2 saja.  Saya tidak ingin mengulang, saya ingin melalui tanpa harus mengulang.
“Ma terima kasih  atas pemberian kue tart bertingkat yang cantik dan mahal ini.” Kataku pada ibu disaat membuka mata.
 “Pa terima kasih sdh booking tiket dan hotel luar negeri dihari ulang tahunku ini” kataku pada ayah sambil meloncat kegirangan dan memeluknya
 ‘’Sayang, terimakasih atas surprisenya, aku bahagia!” kataku pada sang kekasih saat bumi telah redup tergantikan cahaya lilin menyerupai bentuk hati.
Seandainya betul moment seperti  itu terjadi pada saat ini. Aku dan kalian jangan pernah percaya jika ini adalah ulang tahunku. Terang saja…
Aku mengulang tahun kemarin, dimana ibuku tidak pernah membelikan kue tart bertingkat buatan noni belanda, karena Ibuku lebih lihai menjahit sobekan bajuku dengan penuh cinta, baju yang senantiasa meneduhkanku dari terik, melindungiku dari pelecehan.
Aku mengulang tahun kemarin, dimana ayahku tak lagi hadir memeluk dihari ulangtahun ku, karena kami senantiasa berpelukan dalam do’a. Bukan hotel yg ingin ia persembahkan, melainkan istana untuk kami, yah… di tempat yang kekal nan abadi.
Aku mengulang tahun kemarin, dimana tak ada seorang kekasih… karena yang terkasih bukanlah seseorang, melainkan DIA sang  pemilik waktu. DIA yang menghendaki semuanya berulang, berlanjut, ataukah berakhir.
Hari ini saya berulang tahun, yahh… kata yang terulang dari dalam hatiku setahun lalu. Semua apa adanya. Mengulang asa yang membatin, mengulang kata aamiin dari setiap doa ikhlas dari mulut kalian dan mereka agar diijabah olehNya,  mengulang