Rabu, 31 Desember 2014

Selamat Ulang Tahun Bumiku


Asslamu alaikum…

Alhamdulillah kita telah beranjak dari Tahun 2014. Seiring dengan itu pula masing-masing dari kita mengutarakan, menselatankan, menimurkan dan membaratkan setangkup harapan di atas bumi ini, hehehe. Harapan yang terus berulang dari tahun ke tahun. Ada kesyukuran dan ada penyesalan.

Bumi telah memasuki usia 2015 terhitung sejak manusia mengenal penanggalan Masehi. Bukan waktu yang sebentar, meski kita tidak sepenuhnya menjadi saksi sejarah sepanjang usia tersebut. Yah, saya dan kamu hanya khalifah penerima tongkat estafet dari penghuni2 sebelumnya dan insyaAllah kelak mengamanahkan tongkat tersebut ke generasi selanjutnya.

365 hari dalam setahun bukan waktu singkat untuk melakoni peran kita , ada yang tersimpan dan ada yang terlupakan. Dan hari ini kita kembali   mengulang ritual Tahun baru dengan cara kita masing-masing. Mencoba menapak tilas perbuatan, keangkuhan, kenakalan, kekonyolan, tangisan, teriakan, kesepian, gurauan, pemberontakan, kepasrahan, yang ter-frame dalam setiap jejak.

Di usianya yang ke 2015 apakah bumiku kian menua? Iyya… bumiku kian menua, namun lucunya yang pikun malah para penghuninya. Cenderung lupa pada Tuhan, lupa pada sesama, pada budak, pada punggawa, pada udara, pada matahari, pada bulan, pada tanah, pada air, dan lupa jika ia sering menolak lupa. 
Maaf kami sedang lupa karena sedang dicumbu waktu. Kami sedang lupa jika ritual seperti ini hanyalah syndrome efek semalam. Padahal kami tau jika pergeseran waktulah penyebab pergeseran lempengan2 di bawah laut, siap memuntahkan gelombang dahsyat kapanpun itu sperti kemarin yg telah menyisakan efek traumatis pasca tsunami 26 Desember 2004. Kemarin kami sempat mengingat, tapi maaf jika malam ini kembali lupa dan hanya tersadar pada moment tertentu dengan ucapan kalimat sederhana tanpa tindakan. Yaahh seperti pada coretanku ini.

Apakah bumiku sudah sakit sakitan? Iyya bumiku sedang sakit, tp maaf malam ini penghunimu lagi sibuk memainkan petasan, mengguncang tubuhmu dan mengotori paru-parumu dengan asap asap harapan. yaahhh mungkin ini candu budaya kami tiap tahunnya, seperti candu pada rokok, pada kopi, pada music, pada mie instan dan hal menarik lain yang kami sendiri lupa akan unsur negatif yang ada. 

Apakah bumiku telah rapuh? Iyya, fisik bumiku mulai merapuh. Sana sini terjadi kerusakan alami dan kesengajaan.  Banjir manado, longsor banjar negara, jatuhnya airAsia dan lain lain. Lebih parahnya lagi jiwa penghuninya ikut-ikutan merapuh. Berdebat atas nama rakyat, mempertontonkan kemiskinan di reality show hanya untuk sebuah rating siaran, penjarahan baik secara terang2an oleh geng motor hingga perampokan dgn gaya elegan dibalik  kebijakan penguasa.  Dan banyak lagi keunikan perilaku kami diluar ambang moral, lucu sekaligus menyedihkan. Ada apa ini? Ahh… untuk malam ini, bumiku mungkin lelah mengingatkan hingga hujanpun ikutan diam dan berhenti. 

Tapi wahai bumiku…  kami membutuhkanmu hari esok dan seterusnya. Teruslah kuat meski kami makin beringas dan kejam. Tetaplah tabah karena kami makin angkuh dan apatis. Tetaplah jadi pijakan kami, karena kami butuh media refleksi untuk tetap tawaduk di hadapan Sang Pencipta. Kami butuh alam sebagai taswir keindahan yang telah diberikan Sang Pengasih. Kami butuh ruang untuk mengukur sesuatu yang tak dapat kami jangkau dengan mata kami. Yaahh Kami butuh kamu untuk menebar cinta. Dan yakinlah wahai bumi, masih ada penghunimu yang peduli dan rela berjuang terinjak mati mempertahankanmu.

Semangat Ulang Tahun Baru Bumiku. Panjang umur dan berjayalah. Semoga menjadi semangat baru bagi kami penghunimu, dan semoga kita semua senantiasa dalam Lindungan-Nya. Bismillahirrahmanirrahim.

Wassalam

Senin, 22 Desember 2014

Hari Ibu, Bukan Kegilaan


Assalamu alaikum :) 
Malam bebbs…. makin manis aja nih gue, kalo kamu?? Semoga  sama yah… kalopun tidak mampu menyamai  sweet face-ku, setidaknya malam ini saya dan kamu memiliki kadar kegila-an yang sama yah bebs (sambil nyayi’in lagunya Andrew Garcia  I'm not crazy, I'm just a girl, I'm doing everything that I can. Jreng  jreeeeenggg). 
Sorry agak nyombong bebs, mungkin bidikan doktrin tentang perlunya meninggi pada moment-moment tertentu tepat sasaran ke otak ini bebs (nunjuk dengkul).  Untuk malam ini, menurutku kalimat dan gaya pembuka dalam coretan ini mesti meninggi dikit meskipun ibarat kata saya sedang berada di bawah permukaan laut semenanjung arab di dekat laut mati,  yang konon kabarnya secara geografis di sanalah tempat terendah yang ada di bumi. Hmm, yah bisa dibilang gaya meninggi itu strategi agar kalian tertarik menengok coretan ini. tapi tenang saja, orangnya asli low profile kok, gak sombong, anti todong-menodong,  suka makan kedondong dan naik odong-odong.  Hahaha.
Badai wehh (red: ngomong-ngomong), jangan tersinggung yah bebss kalo saya menyempatkan diri nyinggung kegilaan kalian. Saya sih berharap ada kebanggan tersenidiri dengan sisi kegilaan yang kita punya. Coba pikir… salah satu tokoh Jenius Thomas Alva Edison yang di droup out karena kebodohan pertanyaannya, dan yang lebih menyedihkan lagi pemikiran dan gaya hidupnya dianggap gila oleh orang-orang sekitarnya. Namun siapa sangka karena pertanyaan bodoh dan pemikiran gilanyalah kita bisa hidup dan bisa bertemu terang di saat malam menyembunyikan matahari.
Dibalik perilakunya yang dinilai tidak lazim sebagai orang normal, ada seorang yang selalu mendorong dan memberinya semangat hingga ia bisa membuktikan kepada dunia bahwa dibalik kegilaannya itu ia bisa menciptakan sebuah karya yang luar biasa bernilainya sepanjang masa. Siapakah orang itu? Yup, ia adalah seorang ibu. Dalam sebuah tulisan, Thomas berkata “ibukulah yang telah menjadikan ku seperti ini. Beliaulah yang menghormati dan mempercayai aku. Baginya, aku adalah yang paling berharga di dunia ini. Aku ada karena beliau ada. …….” (maaf gak hapal  seluruhnya bebbs :( ). Intinya, beliau begitu menghargai dan menghormati pengorbanan dan kasih saying seorang ibu dalam pencapaian hidupnya.

nahh berbicara tentang Ibu,  hari ini Indonesia beserta isinya sedang memperingati hari ibu. Hari dimana penghargaan dan penghormatan bagi  IBU menjadi seruan kompak dari sabang sampai marauke. Yang lucunya di tengah eufhoria itu, masih saja sebagian dari kita memandang sinis cara dan gaya  pernyataan selamat kepada seorang Ibu. Hehehe. Gak heran sih, Indonesia gitu loh, semua bisa jadi perdebatan. Masih mending kalo perdebatan itu diniatkan sebagai hal positif untuk sebuah kebenaran. Nah kalo cuman mencari mana yang hebat dan mana yang menang dengan mempersalahkan dan nyindir orang lain? Dibilang gila juga kagak, nanti Idolaku Thomas A. Edison malah tersinggung lagi. :D
Penghargaan akan pengorbanan, ketulusan, kasih sayang dan sebagainya dari seorang ibu semestinya bukan di moment ini saja, saya pribadi sangat setuju dengan itu bebh. Tapi, bukan berarti kita harus sinis menanggapi orang lain yang coba mengingat dan mengutarakan penghargaannya di Media social kan?. Bahkan ada yang nyeletuk, jika orang yang memperingati hari ibu di moment ini hanya latah, sok perhatian, bahkan dinilai hanya sebatas kata selamat saja, bukan tindakan. Wets,  hebat yah..  bisa tau niat dan kelakuan orang yang tidak disaksikan secara langsung, orang itu pasti sanro (baca:dukun). Terlepas dari latah dan eufhoria kata selamat hari Ibu, harusnya kita bisa melihat dan memaknai moment ini. Bagaimana berartinya sosok “IBU” / “Perempuan”,  saking berartinya Negarapun menetapkannya sbg hari nasional untuk mengingat dan merenungkan eksistensinya.  Tepatnya tanggal 22 Desember,  tanggal ini diresmikan oleh Presiden Soekarno  di ulang tahun ke-25 Kongres Perempuan Indonesia pada Tahun 1928. Santernya sih tanggal tersebut dipilih untuk merayakan semangat Perempuan Indonesia juga untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara. Yang berarti hari ini semua perempuan berhak merasakan semangat hari ibu, termasuk saya ini bebs. Iyyaa… saya kan calon ibu juga? Hehehe. 

Oke bebh, melalui coretan ini… saya mau berterimakasih buat IBU-IBU yang begitu berjasa (jangan disinisi apalagi dia alay-in yahh bebsss :p)

Untuk Ibuku, yang sebenarnya dalam keseharian saya memanggilnya mama’... Terimakasih, atas kreasi tattoo kerennya di punggungku tiap saya masuk angin, trimakasih daun jaraknya tiap saya menyembunyikan rasa mual di lambungku, terimakasih jahitan pada sobekan bajuku yang membuatku terlindungi dari terik dan pelecehan, terimakasih mau menerimaku dalam berbagai kondisi, terimakasih atas pemberian maaf ditiap kenakalan dan pembangkanganku, terimakasih atas air mata harapannya, terimakasih atas doa yang tak pernah putus, terimakasih untuk segalanya :) :*

Juga terima kasih untuk Ibu-Ibu dan perempuan-perempuan hebat yang ada…
Terimakasih untuk Ibu penjual Koran, Ibu Petani, Ibu Nelayan, Ibu di tepi Jalan, seluruh Ibu dan perempuan-perempuan hebat tanpa terkecuali…
Sampaikan Salamku pada si “Bapak” yang begitu tampak gagah mendapat pendampingan oleh sosokmu, sampaikan rasa banggaku pada si “ anak”  yang begitu beruntung lahir dan besar dalam belaianmu.
Oh iyya terima kasih juga buat bebss bebbss yang sempat menengok coretan tanpa makna ini, heheh. Udah dulu yah, mo lanjut nikmatin isapan sebatang nihhh (coki-coki). J
Yang merindu, jangan sungkan saya tunggu di mimpi yahh bebs :D

Rabu, 17 Desember 2014

Pengakuan Tengah Malam Tanpa Garansi


Malam ini gerah padahal di luar masih bau basah, meskipun gak lagi basahmami amat bebss *ehh. Atau mungkin saja saya gerah lantaran terjangkit sindrom  Jokowi effect” gara-gara tadi sempat sok mau tau urusan Negara lewat berita online. Gimana tidak, judul berita yang disajikan membuat penasaran meskipun kadang beberapa judul berita gak sinkron sama isi beritanya. Terlebih lagi jika judulnya menggelitik, terkesan provokatif dan sedikit menyinggung privasi. Seperti yang sempat saya lihat tadi nih bebss, judul beritanya  “Ada Djarot, Ahok Sumringah Kini Tak Lagi 'Jomblo'”  nah lohh… nyinggung banget kan mblo??? Hahahah

Ah sudahlah… malam ini coretan saya bukan untuk bahas soal akhir penantian Ahok, atau soal pro kontra kebijakan Bu Rini di sana (nunjuk Gedung Kementrian BUMN), apalagi pemahamanku yang masih awam dan terbilang polos untuk menilai sebuah kebijakan. Ahhaaiii…
Malam ini saya mau buat pengakuan bebbss… iya pengakuan tentang rasa. Sekiranya kalian pernah lihat iklan mie yang kalo gak salah si model iklannya bilang “lidah boleh bo’ong, soal rasa gak bisa bo’ong!” nah , pesan bijaknya dapat banget tuh bebss dan saya sepakat saja dengan itu.

Malam ini saya membuat pengakuan tentang rasa ini… widdih macam lagu saja yah bebs?!
Berikut pengakuanku *tiba-tiba hening*

Saat ini rasa ke-tidak mengerti-an tentang perasaan sendiri membawaku pada ruang spekulatif, supaya bisa  menegaskan status dan sikon perasaanku meski ku akui ada sebuah usaha kamuflase. Akal ini seakan berinisiatif untuk membentuk sebuah rasa agar mampu diterima oleh rasioku dan mencoba untuk tdk terjebak dengan rasa yang aneh itu, ahhhh….  terlalu sok pemikiran ini.
Ada suatu perasaan yang jangankan untuk merasionalkannya, mendeskripsikannyapun saya tdk mampu. aakh… dasar pecundang perasaan ini. dia hanya mampu menunggu salah satu diantara sedih, riang, duka, cita, emosi, susah, senang, dan satu lagi kata yang membuatku segan untuk mengatakannya. dia adalah CINTA. Ataukah ini yang sedang diadaptasi oleh rasa dan tak mampu dipaparkan oleh logika yang dangkal ini?
Mereka kadang berkata… jangan terlalu sentimen menyikapi kata CINTA, jangan sampai kau terjebak karenanya. Tapi nyatanya, sekarang saya sedang berada di dalamnya dan mulai terjebak. Jiaaahhh, pengakuan ini membuatku malu dan sedikit risih. Yahh, semuanya karena pengakuan ini diimbuhi dengan sebuah kata dasar yang arbitrer, kata “Cinta”. Kata yang timbul begitu saja yang dalam bahasa gaul dikenal dengan istilah ero'ero'. Begitu juga dengan perasaan cinta itu, ia bisa timbul begitu saja, timbul tanpa aturan. 

 Cinta Serupa Mati,  ditemukan dan menemukanya adalah tanpa syarat dan tak bersyarat, di sanalah  awal cerita kebebasan dan pembebasan, dan dia ada. 
 Saya tidak begitu mengenalnya, tp tau kah dia… ada senang saat dia tertawa karenaku, ada bahagia jika terjadi perdebatan kecil yang membuat kami seakan memahami, dan pastinya ada bahagia jika suatu saat dia tau itu.
Inilah pengakuanku, yang diam diam bersembunyi dibalik rasa yang terpungkiri, dibalik logikaku yang agak sok tau. Tapi, pengakuan ini suatu saat akan berubah dan termarginalkan oleh rasa itu sendiri. Saat diri ini sadar jika senyum, tawa dan bahagianya bukan karenaku.
Dan saat itu semua akan berlalu… mungkin dengan penyesalan.
****__*****


Gimana bebss, pengakuan rasa di atas?hehehhe
Banyak kemungkinan dari pengakuan ini, entah sebuah pengakuan kisah nyata yang ku alami, ataukah hanya karangan kisah yang muncul ketika sang inspirasi lagi bersahabat… hanya aku, dan Sang Maha Mengetahui yang tau itu. Jika seumpanya benar, wahh beruntung sekali orang itu... bagaimana tidak? pengakuan soal rasaku adalah poin yang sangat mahal. :p

Dan sekarang saya cukup berani untuk berkata “ini adalah kisahku yang bukan fiktif, dia nyata, dan saya merasakannya”. Tapi, apakah yang saya katakan itu mutlak kebenarannya atau hanya bohong belaka?... ingat bebs...  lidah bisa bohong, tapi soal rasa??? hahahah lagi-lagi, hanya saya yang tau.

Inilah pengakuanku yang tak bergaransi bebsss… Selamat malam dan salam mahal untuk sebuah rasa :D

Rabu, 03 Desember 2014

Kehangatan Tandingan


Assalamu alaikum gaessss…  hayo yang dingin mana pelukannyaaa???!!!  guling maksud saya bebsss :D.
Kali ini saya kembali nyorat nyoret di sini sekedar senam jari yang mulai mendingin sembari menghangatkan suasana hati. Maklum, di luar lagi hujan jadi dinginnya ikutan numpang berteduh di sampingku. 
Oh iya bebs, setelah musim pengantin berlalu tidak terasa kembali kita dipertemukan musim hujan… Alhamdulillah yaaa…

Berhubung karena hujan, sehingga pemakluman bagi kita semua  jika di socmed kini berbanjiran kata-kata yang mendramatisir tentang hujan. Ada yang berkoar tentang rindu, tentang dingin, sampai  ada yang nge-publish kesibukannya mencari sumber kehangatan di socmed… ckckck. Mblo… mblo…
Lewat coretan ini saya mau mengingatkan, khususnya para jomblower nih ya… bahwa sumber kehangatan disaat hujan bukanlah dari pelukan. Maaf saja, secara sepihak paradigma seperti itu saya kategorikan sebagai teori klasik. Saya melihat bahwa teori tersebut sudah tidak  cucok lagi terhadap kondisi per-anakmuda-an yang ada, sebagaimana Adam smith dengan teori ekonominya yang sudah tdk sejalan dengan kondisi perekonomian global.  Uppss…

Sebagai kaum  intelektual (baca: Jomblo Tidak Rantasa' ), cukuplah ketidak kreatif-an kalian terlihat pada ketidakmampuan menggaet seorang patjar ato apalah namanya. Jangan biarkan lagi persepsi keliru terhadap kaum jomblo meraja lela di kalangan manapun termasuk elite parpol dan relawan2 yang ngehek dan alay.  Heheheh gak nyambung yahh? Gak papalah,  yang jelas intinya jomblo itu selalu mengedepankan otak, bukan imaji yang gak rasional. Bukan menghayalkan kehangatan tapi menciptakan kehangatan. Cara menciptakan kehangatannya juga gak perlu repot repot  membuat matahari tandingan. Konsep tandingan2 macam itu biarlah punya DPR dan penguasa2 rakyat. So, di DPJ (Dewan perwakilan Jomblo) ini kita tidak usah mencontoh hal semacam itu, ingat… kita ini kreatif dan terhormat :D.

Kehangatan ala2 jomblo itu semua asyik nyantai kayak ngepantai. Misalnya rendam kaki ato mandi pake air hangat, tapi yang gitu kayaknya sudah mainstream yah mblo? So, kalo mau yang agak ekstrem, skali2 kamu bisa coba nyalain api unggun di atas tempat tidur.  :D :p
Ada lagi nih cara memperoleh kehangatan… klasik sih tapi tetep asyik, kehangatan yang bersumber dari isi gelas. Tau Kopi kan? Itu tuh yang item2 pahit kayak kamu mblo. Hahaha peace \m/.

Dengan segelas kopi, kalian akan mendapat ekspektasi luar biasa tentang kehangatan, ditambah komparasi rasa, dan makna2 filosofi dari seduhan kopi. Kata Andrea Hirata nih yahh… “Kopi tak sekadar air gula berwarna hitam, tapi pelarian dan kegembiraan- Segelas kopi bak dua belas teguk kisah hidup”. Nah bukan melebihkan tapi itulah adanya bebs. Di dalam segelas kopi, ada memori tentang pahit manis kehidupan… tentang unsure yin dan yang yang selalu berdampingan. Di dalam  segelas kopi, kalian akan tau tentang keadilan rasa…  dimana rumus 1:2 (1 sendok kopi : 2 sendok gula) mengingatkan kita bahwa keadilan dan kenikmatan itu bukan tentang sama rata tapi tentang pas rasa.
Nah… selain kopi, di daerah asalku ada jenis minuman penghangat yang gak kalah nikmatnya dengan kopi. Namanya sarabba’… wisssshhh tetiba saya langsung pengen bebbss. Minuman ini asli mujarab buat yang lagi dimasukin angin alias masuk angin. Hangatnya tuh sampe kedalam-dalam bebs. Sarabba merupakan minuman hangat dari campuran rebusan air gula merah, santan, jahe, dan kalo mau special biasanya ditambah telur kampung atau susu. Rasanya manis, pedas, gurih, dan hangat. Dengan kenikmatannya, setiap seruputan adalah penyadaran bahwa  kepedihanlah yang mampu menghangatkan manis, gurih dan nikmatnya hidup yang semakin dingin dan angkuh.

Sekian coretan saya yang rada sok bijak bebs… Apapun itu, setidaknya malam ini ada segelas hangat di peluk genggaman. Ingat keadilan rasa… yang penting dijamin halal dan bermanfaat.  Jangan ada tandingan diantara kita \m/   Cheers!!! :D

Waassalam.

Kamis, 16 Oktober 2014

lirik dan nada


Bagimu sebuah lagu adalah jiwa
Dimana keadilan hadir dalam distorsi nadanya
Kenyamanan adalah kemerduannya
Dan keindahan jatuh di setiap makna liriknya

Jika mau, bukan hal mustahil bagiku untuk lihai memeluk dan memetik gitar
Mendendangkan lagu pembebasan, pemberontakan dan sesekali membungkam  malam bersama lagu romantis
Tapi tetap saja aku memilih bodoh untuk hal itu
Kau tau kenapa?
Karena skenarioku adalah kelak kau yang akan melakukannya untukku
Memperkenalkan wajah keadilan, rasa kenyamanan dan nikmatnya keindahan

Aku tidak pandai mencipta lagu
Tapi tenang saja, bekali aku kertas kosong  dan kubawa pulang
Bersama waktu akan kurangkai kata demi kata hingga ia berubah bentuk menjadi lirik
Ketika usai, akan kulipat menyerupai pesawat terbang
Pesawat yang siap menemui  rindu sang lirik yang terpisah dari nadanya

Sebelum  pesawat kertasku mendarat, jangan lupa untuk berjanji
Berjanji untuk meniupkan ruh nada pada setiap katanya
Berjanji untuk mengagumi kejujuran di setiap kalimatnya
Berjanji menjadikannya karya yang dirimu sendiri menikmatinya
Jangan dipublikasikan, karena keutuhan liriknya adalah manifestasi keindahanku
Kurasa cukup itu saja janjimu, aku tidak ingin memberimu peluang untuk mengingkari egoku.

Jika selesai karya itu, cepat kabari aku…
Jangan terlalu lama, karena kata orang menunggu itu meresahkan
Saya takut angin nakal menerbangkan lirikku pada nada yang tidak tepat

Sekiranya lirikku telah menyatu dengan nadamu, cepat kabari aku
Jangan lupa momentnya di saat malam yang tidak terlalu larut
Kau tau kenapa?
Karena malam selalu saja baik padaku
Malamlah yang selalu mengajakku bersahabat pada ketakutan

Oh iya… sebelum aku datang
jangan lupa sediakan kursi tanpa sandaran di sampingmu
Kau tau kenapa aku meminta itu?
Aku takut tidak punya  alasan untuk merebahkan kepala ini di pundakmu
Kepala yang ingin menyempatkan telinga menikmati lagu kita
Kepala yang begitu lelah menunggu dan mengintai gerakmu

Ahhh… konyol, skenarioku tdk direstui
kau dan nadamu menguap menuju langit menjadi gumpalan kabut
mustahil bukan? pesawat kertas ini menggapaimu

jadi, biarkan pesawat ini kuubah menjadi perahu kertas untuk ku hanyutkan ke laut
di sana ada nada ombak mengiringinya sementara waktu
Setidaknya lirikku masih setia menunggu nadamu yang telah berubah menjadi kabut
menunggu kabut menjadi hujan  menetes kebumi
yah, meski kita sebagai penciptanya mustahil menyatu :D