Kamis, 16 Oktober 2014

lirik dan nada


Bagimu sebuah lagu adalah jiwa
Dimana keadilan hadir dalam distorsi nadanya
Kenyamanan adalah kemerduannya
Dan keindahan jatuh di setiap makna liriknya

Jika mau, bukan hal mustahil bagiku untuk lihai memeluk dan memetik gitar
Mendendangkan lagu pembebasan, pemberontakan dan sesekali membungkam  malam bersama lagu romantis
Tapi tetap saja aku memilih bodoh untuk hal itu
Kau tau kenapa?
Karena skenarioku adalah kelak kau yang akan melakukannya untukku
Memperkenalkan wajah keadilan, rasa kenyamanan dan nikmatnya keindahan

Aku tidak pandai mencipta lagu
Tapi tenang saja, bekali aku kertas kosong  dan kubawa pulang
Bersama waktu akan kurangkai kata demi kata hingga ia berubah bentuk menjadi lirik
Ketika usai, akan kulipat menyerupai pesawat terbang
Pesawat yang siap menemui  rindu sang lirik yang terpisah dari nadanya

Sebelum  pesawat kertasku mendarat, jangan lupa untuk berjanji
Berjanji untuk meniupkan ruh nada pada setiap katanya
Berjanji untuk mengagumi kejujuran di setiap kalimatnya
Berjanji menjadikannya karya yang dirimu sendiri menikmatinya
Jangan dipublikasikan, karena keutuhan liriknya adalah manifestasi keindahanku
Kurasa cukup itu saja janjimu, aku tidak ingin memberimu peluang untuk mengingkari egoku.

Jika selesai karya itu, cepat kabari aku…
Jangan terlalu lama, karena kata orang menunggu itu meresahkan
Saya takut angin nakal menerbangkan lirikku pada nada yang tidak tepat

Sekiranya lirikku telah menyatu dengan nadamu, cepat kabari aku
Jangan lupa momentnya di saat malam yang tidak terlalu larut
Kau tau kenapa?
Karena malam selalu saja baik padaku
Malamlah yang selalu mengajakku bersahabat pada ketakutan

Oh iya… sebelum aku datang
jangan lupa sediakan kursi tanpa sandaran di sampingmu
Kau tau kenapa aku meminta itu?
Aku takut tidak punya  alasan untuk merebahkan kepala ini di pundakmu
Kepala yang ingin menyempatkan telinga menikmati lagu kita
Kepala yang begitu lelah menunggu dan mengintai gerakmu

Ahhh… konyol, skenarioku tdk direstui
kau dan nadamu menguap menuju langit menjadi gumpalan kabut
mustahil bukan? pesawat kertas ini menggapaimu

jadi, biarkan pesawat ini kuubah menjadi perahu kertas untuk ku hanyutkan ke laut
di sana ada nada ombak mengiringinya sementara waktu
Setidaknya lirikku masih setia menunggu nadamu yang telah berubah menjadi kabut
menunggu kabut menjadi hujan  menetes kebumi
yah, meski kita sebagai penciptanya mustahil menyatu :D
Posting Komentar