Rabu, 03 Desember 2014

Kehangatan Tandingan


Assalamu alaikum gaessss…  hayo yang dingin mana pelukannyaaa???!!!  guling maksud saya bebsss :D.
Kali ini saya kembali nyorat nyoret di sini sekedar senam jari yang mulai mendingin sembari menghangatkan suasana hati. Maklum, di luar lagi hujan jadi dinginnya ikutan numpang berteduh di sampingku. 
Oh iya bebs, setelah musim pengantin berlalu tidak terasa kembali kita dipertemukan musim hujan… Alhamdulillah yaaa…

Berhubung karena hujan, sehingga pemakluman bagi kita semua  jika di socmed kini berbanjiran kata-kata yang mendramatisir tentang hujan. Ada yang berkoar tentang rindu, tentang dingin, sampai  ada yang nge-publish kesibukannya mencari sumber kehangatan di socmed… ckckck. Mblo… mblo…
Lewat coretan ini saya mau mengingatkan, khususnya para jomblower nih ya… bahwa sumber kehangatan disaat hujan bukanlah dari pelukan. Maaf saja, secara sepihak paradigma seperti itu saya kategorikan sebagai teori klasik. Saya melihat bahwa teori tersebut sudah tidak  cucok lagi terhadap kondisi per-anakmuda-an yang ada, sebagaimana Adam smith dengan teori ekonominya yang sudah tdk sejalan dengan kondisi perekonomian global.  Uppss…

Sebagai kaum  intelektual (baca: Jomblo Tidak Rantasa' ), cukuplah ketidak kreatif-an kalian terlihat pada ketidakmampuan menggaet seorang patjar ato apalah namanya. Jangan biarkan lagi persepsi keliru terhadap kaum jomblo meraja lela di kalangan manapun termasuk elite parpol dan relawan2 yang ngehek dan alay.  Heheheh gak nyambung yahh? Gak papalah,  yang jelas intinya jomblo itu selalu mengedepankan otak, bukan imaji yang gak rasional. Bukan menghayalkan kehangatan tapi menciptakan kehangatan. Cara menciptakan kehangatannya juga gak perlu repot repot  membuat matahari tandingan. Konsep tandingan2 macam itu biarlah punya DPR dan penguasa2 rakyat. So, di DPJ (Dewan perwakilan Jomblo) ini kita tidak usah mencontoh hal semacam itu, ingat… kita ini kreatif dan terhormat :D.

Kehangatan ala2 jomblo itu semua asyik nyantai kayak ngepantai. Misalnya rendam kaki ato mandi pake air hangat, tapi yang gitu kayaknya sudah mainstream yah mblo? So, kalo mau yang agak ekstrem, skali2 kamu bisa coba nyalain api unggun di atas tempat tidur.  :D :p
Ada lagi nih cara memperoleh kehangatan… klasik sih tapi tetep asyik, kehangatan yang bersumber dari isi gelas. Tau Kopi kan? Itu tuh yang item2 pahit kayak kamu mblo. Hahaha peace \m/.

Dengan segelas kopi, kalian akan mendapat ekspektasi luar biasa tentang kehangatan, ditambah komparasi rasa, dan makna2 filosofi dari seduhan kopi. Kata Andrea Hirata nih yahh… “Kopi tak sekadar air gula berwarna hitam, tapi pelarian dan kegembiraan- Segelas kopi bak dua belas teguk kisah hidup”. Nah bukan melebihkan tapi itulah adanya bebs. Di dalam segelas kopi, ada memori tentang pahit manis kehidupan… tentang unsure yin dan yang yang selalu berdampingan. Di dalam  segelas kopi, kalian akan tau tentang keadilan rasa…  dimana rumus 1:2 (1 sendok kopi : 2 sendok gula) mengingatkan kita bahwa keadilan dan kenikmatan itu bukan tentang sama rata tapi tentang pas rasa.
Nah… selain kopi, di daerah asalku ada jenis minuman penghangat yang gak kalah nikmatnya dengan kopi. Namanya sarabba’… wisssshhh tetiba saya langsung pengen bebbss. Minuman ini asli mujarab buat yang lagi dimasukin angin alias masuk angin. Hangatnya tuh sampe kedalam-dalam bebs. Sarabba merupakan minuman hangat dari campuran rebusan air gula merah, santan, jahe, dan kalo mau special biasanya ditambah telur kampung atau susu. Rasanya manis, pedas, gurih, dan hangat. Dengan kenikmatannya, setiap seruputan adalah penyadaran bahwa  kepedihanlah yang mampu menghangatkan manis, gurih dan nikmatnya hidup yang semakin dingin dan angkuh.

Sekian coretan saya yang rada sok bijak bebs… Apapun itu, setidaknya malam ini ada segelas hangat di peluk genggaman. Ingat keadilan rasa… yang penting dijamin halal dan bermanfaat.  Jangan ada tandingan diantara kita \m/   Cheers!!! :D

Waassalam.
Posting Komentar