Jumat, 20 November 2015

Milad dan Insinuasi Garis Keras


Assalaamualaikum, bagaimana harinya? Seharian tidak lupa bahagia kan temans?
Sudah larut sih… tapi ditemani sisa efek kafein dan sebatang coki2, saya mau nyoretin blog yang cukup lama terabaikan ini.

Alhamdulillah hari ini kembali berbanjiran ucapan selamat serta doa dan harapan dari sekitarku, pun juga berbanjiran tawaran ngopi, dengan note “belakang bayar”. Hehehe.
Sekedar mengingat, tanggal ini bertepatan dengan tangis perdanaku yang disambut kumandang adzan oleh seorang pria gagah, juga menjadi pesakitan bahagia perdana oleh seorang perempuan hebat, yang melalui rahimnyalah Tuhan mempercayakan prosesi penciptaanku.
Ucapan selamat untuk sebagian orang mungkin sebuah kelaziman. Tetapi, kelaziman bukan berarti hal yang patut disepelekan kan? Menurutku hadirnya ucapan selamat memiliki konsep konstruksi tersendiri. Tidak terlontar begitu saja, namun dibangun oleh sikap perhatian dan kepedulian. Bagaimana mungkin ucapan terlontar tanpa sebuah ingatan yang didasari sikap perhatian? Dan mustahil bukan sebait doa mampu terpanjatkan tanpa kepedulian? bukankah manusia punya pilihan untuk bersikap apatis terhadap hal hal sepele?

Sangat variatif ucapan dan doa yang ada. tentang kesuksesan, kesehatan, kebahagiaan, lapang rezeki dan jodoh,  umur panjang dll.
Seperti Tahun Sebelumnya, harapan dan kode insinuatif tentang status “kesendirian”ku juga terlontar dari beberapa teman konyol dan pemuja rahasia nan kepo, heheh. Kalo tahun lalu sih masih berbau ejekan standar, nah sekarang insinuasinya asli sok warning, padahal sebenarnya terdengar absurd di telinga dan logika ku.  Bayangkan saja, seorang teman nelepon tengah malam hanya berucap “salamualaikum… mit, pokoknya harusko sadar di usia barumu… besok janganmi traktirka, tp bawakanka cowokmu! Salamualaikum.”  dengan vocalnya yang dimirip miripkan debt collector biar terdengar horor. Lah, antara kesadaran, ulang tahun, dan cowok, korelasinya dimana coba? Pake metode analisis apapun pasti jawabannya tidak bakal saya temukanlah bebs.
Kekonyolan lain hadir dari sirat harapan beberapa teman yang baru saja menjadi Ibu muda.
“selamat ulang tahu tante, semoga …………….” (titik titiknya sengaja disensor).
Yang absurd bukan hanya BBMnya yang seolah diketik oleh si baby. Tapi lanjutan dari kata semoganya itu loh. Yang pada intinya si baby mengungkapkan keinginannya dihadiahi seorang om (you knowlah maksud mereka). Dalam kondisi ini saya melihat ada kecenderungan cikal bakal emak yang otoriter. hehehe. dimana secara sepihak si emak menggunakan hak bicara anaknya yang belum bisa ngomong. Tadinya mau saya adukan ke komnas perlindungan anak, tapi ku urungkan. Kan gak lucu kalau kasus penipuan #mamamintapulsa dan ramai Freeport tentang #papamintasaham tenggelam oleh media gara gara isu #PonakanMintaOm. Hehehe. Bukan salah rezim orba kok bebs, ini hanya kesalahpahaman asa antara ibu muda dan tante muda. Lagian saya tau dibalik sindiran terselubung tersebut, ada harapan yang tersirat. :)
So dengan penuh ketabahan dan keihlasan yang memang gambaran tentang diriku (dilarang protes) kumaklumi kelakuan ibu2 muda itu yang sudah membuat kredibilitasku sebagai tante idaman para ponakan luluh lantah seketika. Toh dengan intuisiku yang handal ini, saya yakin sebenarnya si baby malah mau bilang
“selamat ulang tahun tante, jangan punya cowok dulu yah, tunggu saya besar. mana tau kita jodoh. Aku sayang tante”. hahaha

all events, it makes me feel so a lucky woman. love you all :*

Terlepas dari surat dan sirat pengungkapan ucapan selamatnya yang beraneka ragam, concern yang saya tangkap tidak lain adalah tentang harapan yang didasari oleh kepudulian, perhatian dan kasih sayang. Ditengah tuntutan kesibukan, masih banyak yang menyempatkan sebagian belahan otak kanannya untuk merangkai doa dan harapan di hari jadiku. Sehingga melalui coretanku di sudut malam dan kelelahan ini, rasa terimakasih pantas kudedikasikan buat kamu, dia, kalian dan mereka yang dengan hati tulus mendoa untuk perempuan kerdil ini. yups... perempuan yang tak sesurvive dan setangguh sosok “Kate” dalam film survivor. Terimakasih juga untuk orang orang yang telah ikhlas mengisi kekuranganku dengan kelebihannya, serta menjadikan kelebihanku lepas dari makna kesia siaan.

Syukurku semata untuk Sang Pencipta yang telah meng-ada-kanku, menyempatkanku bergeser dari titik satu ke titik lain menemui kejaiban, mempertemukan dengan sosok sosok yang luar biasa dengan segala kejutan penuh hikmah. Semuanya adalah alur yang membawaku pada keyakinan, bahwa kasih-Nyalah yang akan mewujudkan apa yang kita semogakan kemarin dan seterusnya.
Rasanya saya kehabisan kata untuk mengurai semua perasaan, sampai tidak mengenal batasan rasa antara syukur, bahagia, haru dan entah perasaan apalagi namanya. Tapi bukan berarti ini sebuah kelatahan sikap atau euphoria sesaat yang hanya hadir di moment kelahiranku. Setidaknya, ada penegasan rasa ketika hariku pernah luput dari rasa syukur, terima kasih, bahkan terbelenggu ketidak pedulian yang nyaris merenggut nilai kemanusiaanku.

oh iya, Satu lagi ucapan terimakasih yang tak kalah pentingnya, yakni untuk pihak ANTV yang sudah rela mengeluarkan anggarannya demi menghadirkan ratu jodha tepat di hari ulang tahunku. Hmmm, Padahal saya tidak pernah memberi bocoran mengenai tanggal kelahiranku ke pihak ANTV. Tengkyu bro I’m so excited . hahaha.
Tidak disangka pihak ANTV diam diam memberikan surprise.Semoga ini bukan kode bargaining politik. hehehe.
Sebagaimana saya teringat dan terinsparasi oleh salah satu quote ratu jodha:
“aku memang tidak ingin mengerti apapun tentang politik yang merusak moralku, aku bahagia dengan apa yang ada di diriku.”
Gimana? Aseek gak sikap sok idealisnya saya?  Heheheh

Akhir kata selamat malam bebs, terimakasih dan salam bahagia untuk kita semua. entah yang masih berpijak di bumi ataukah yang telah damai di alam keabadian. :)
Salama’ki, semoga doata berbalas kebaikan.

Jumat, 04 September 2015

OPAK bukan Orientasi Perkenalan Aku dan Kamu


Assalamu alaikum agangs, apa kabar? Ada yang rindukah dengan pencoret yang tidak bermutu ini? hehehe.
Sudah sore tapi di luar keliatannya masih terik, membuat kita yakin jika Indonesia kini tidak seadem Indomaret (bukan iklan). Namun beberapa hari yang terik bin panas ini, tempat yang padat manusia bukan di Indomaret, melainkan gedung gedung yang berlabelkan Universitas dan sejajarannya. Tanya kenapa?

Wadah kaum intelektual sedang ramai pengunjung. Terik dan panas tidak menjadi alasan untuk luput dari rasa bangga atas almamater yang sedang melekat di  tubuhnya. Saya pernah seperti mereka. Dan percayalah… disamping fenomena el nino seiring kemarau panjang, sekarang juga sedang terjadi fenomena kakak2an dan adek2an seiring dengan kehadiran MABA alias MAhasiswa BAru tersebut.
Tapi sebelum nyinggung soal MABA beserta modus modus yang terkandung di dalamnya, saya mau perkenalkan diri dulu deh. Mana tau ada yang pura2 lupa dgn perempuan penganut anti patjaranisme ini (ndak usah dibahas). Juga hitung2 mensosialisasikan pepatah yang sudah disaneering oleh Daeng Maman yang katanya “tak kenal maka ta’arufan”.
Nama saya mita, kadang dipanggil piyo, dan beberapa sebutan lain yang diberikan oleh mereka yang cuek terhadap histori penyembelihan kambing waktu saya berumur 2 minggu. Saya mantan MABA yang unyu unyu beberapa tahun lalu. Mantan MABA dari kampus hijau di kota Makassar. Maaf, bukan maksud menyombongkan diri sebagai manusia yg pernah makan bangku kampus, coretan ini cuma mau mengenang kembali  jaman tante MABA dulu nak. Hehehe. 
Gimana, sudah kenal dengan saya? Berarti sudah sayang dong? :D

Sebagai MABA, ada beberapa prosesi yang harus kita jalani sebagai “takdir rekayasa” yang membudaya. Salah satunya adalah keharusan menjalani masa orientasi yang kebanyakan orang lebih familiar dengan sebutan OSPEK. Belakangan ini beberapa Perguruan Tinggi kabarnya sudah tidak memberlakukannya, mungkin dengan beberapa pertimbangan yang kemudian diamini sebagai kebijakan. Ataukah adanya pergeseran aplikasi yang keliru terhadap tujuan mulia sebuah OSPEK. tapi, kali ini coretanku tidak akan membahas atau memposisikan diriku sebagai garis pro maupun kontra mengenai kebijakan. Terlalu kaku bebs. Toh kacamataku sedang hilang, saya ragu penilaianku akan menimbulkan penilaian kaca mata kuda yang tidak objektif.
Berbicara OSPEK, kalo di kampusku dulu namanya OPAK, singkatan dari Orientasi Pengenalan Akademik. Tapi ada juga yang nakal mengasumsikannya sebagai Orientasi Perkenalan Aku dan Kamu. Nah loh?! Momen ini paling dinanti nanti oleh senior terlebih lagi senior jones yang terancam DO. Heheehe peace….
Sebagian menganggap OPAK sebagai lahan produktif bagi para senior untuk menegaskan eksistensinya sekaligus menyeleksi MABA mana yang akan dijadikan “adek” tanpa harus berhadapan dengan komisi perlindunan anak. Dengan demikian, terjalinlah hubungan kakak2an dan adek2an. 
Sekali lagi saya pernah MABA, tapi saya bukanlah MABA yang termasuk dalam list incaran “adek2an”. Entahlah, mungkin karena saya kurang menarik pada saat itu. Ataukah karena sering bolos OPAK, sehingga kakak senior nyaris tidak sadar kalau ada “adek” manis yang luput dari pandangan. Hahahah.  Maklum, saat itu saya sedang sibuk2nya mengais rejeki sebagai tindakan antispatif jika harga BBM yang selalu linear terhadap harga lainnya mengalami kenaikan.
Ketika OPAK berlangsung, saya lebih senang mengambil barisan paling belakang. sok mengamati karakter MABA  lain yang datang dari berbagai penjuru, sambil diam2 mengagumi beberapa sosok menarik di hadapanku. Kurasa opsi tersebut sudah sangat bijak untuk menghindari kebosanan retorika dan aksi dari beberapa kaum yang mengaku intelek.
Dari hasil pengamatanku, MABA yang masuk list incaran modus adek2an adalah MABA yang paling menonjol dan mendapat pengakuan “cantik” berdasarkan hasil diskusi bisik2 senior. Dalam kondisi ini, definisi cantik tidak lagi bersifat relative melainkan sebuah kesepakatan kakak2an, ibarat permainan issue di bursa saham. Layaknya investor, para kakak pun mengatur strategi untuk melakukan persaingan bebas yang berdampak pada efek monopili sebuah produk, dimana produk tsb  tidak lain adalah si adek. Ketika adek sepakat termiliki, maka dipublikasikanlah dengan tujuan usaha si kakak menjadi go public. Dengan demikian, value si kakak pun menjadi naik ratingnya.
pusingkan dengan uraian coretanku? Yess, akupun. hahaha 

Sederhananya, MABA yang masuk dalam chart  terpopuler adalah mereka yang menjadi incaran oleh banyak senior (jumlahnya melebihi jumlah warna balon dalam lagu ”Balonku”). Dan yah… ketika saya mencoba mengurainya dalam chart, saya menemukan diriku di kolom  degradasi. ohmegat!! deretan paling bawah deh pokoknya. Haruskah saya mempertontonkan atraksi saltoku sekedar mencuri perhatian sekitar? Ah kurasa itu terlalu cepat. 
Tapi tunggu dulu, saya membenarkan bahwa beberapa MABApun sebenarnya senang memberi umpan lambung terhadap senior. MABA juga kadang modus buat curi2 perhatian kok. kadang ada junior yang dikit2 nanya sesuatu (padahal) tidak penting dengan gaya yang dialay2kan, ada juga yang beracting sakit agar bisa  mendapat perhatian, bahkan ada yang pura2 amnesia lupa jalan ke toilet supaya bisa di antar oleh si kakak. Banyak deh modus konyol lainnya. Dalam posisi ini, analogi bursa saham gak cocok buat si adek. Mungkin lebih  cocock jika dianalogikan sebagai produk yang di promosikan melalui  sales door to door. Hehehe.

Tidak sampai disitu investigasi sok tau yang kulakukan. Heheheh.  saat menjadi seniorpun, saya masih iseng mengamati fenomena MABA. Saat itu saya penasaran bagaimana rasanya modusin junior, sekalian mengukur sejauh mana kemampuan saya dalam hal modus memodus dan bagaimanakah  “menariknya” saya di mata mereka. Saya tidak ingin kejadian yang dialami Idolaku; BJ Habibie terulang. Dimana dia kecewa karena Negara baru mengakui kemampuan IQnya yang ternyata melebihi IQ Albert Enstein (yang juga idolaku). Tujuan beliau bukan untuk menyombangkan diri, setidaknya kita bisa mengabarkan pada dunia bahwa Negara mereka tak lebih hebat dari Negara kita. Yes… dialah salah satu idolaku, Beliau muslim tercerdas di dunia! Tokoh dari SULSEL yang diberi gelar “Mr.crack” karena penemuan teorinya.  Presiden ke 3 Indonesia yang berhasil membuat rupiah menguat,  ketika rupiah berkisar Rp. 10.000 – Rp.15.000 justru kepemimpinannyalah  rupiah menguat ke Rp. 6.500/dolar Amerika. nilai yang tidak pernah terjadi lagi sampai saat ini.
Oke lanjut bebs…
bermodal kepolosan, retorika ngasal, dan mimik memelas, saya kemudian menyatakan “perasaan” ke beberapa junior di waktu yang berbeda. Dari uji coba tersebut, alhasil 2 dari 10 junior yang saya tembak itu memberi jawaban yang ngegantung, dan selebihnya menolak bebs… NOLAK??!! OHMEGAAAT!! urutan degradasi lagi kemampuanku? Gila gak tuh??? Saya baru percaya bahwa arti dari masalah adalah ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan. That’s problem bebs!!! Tapi okelah, tidak perlu dibahas lebih lanjut analisisnya.  Saya percaya kalian punya interpretasi atas kejadian penolakan tersebut. :D
Sayangnya, momen OPAK saat itu tidak berjalan tuntas. Terjadi gejolak yang entah siapa lawan siapa. Tepatnya 1 september 2010, gemuruh, teriakan,  lelarian, dan rasa panik tercover di kampus peradaban itu. Kampus bergejolak dan mengakibatkan beberapa senior diDrop Out. Momen dimana saya menyaksikan dan merasakan  berhadapan dengan situasi badik takbu’bu. Sekali lagi, saya bukan sejarawan yang tak perlu ragu menulis kejadian. Bagiku sejarah adalah nyata, namun kebenarannya tidak dapat ku pastikan.

Melalui coretan ini, saya tidak berhak memberi saran mengenai eksistensi mahasiswa seutuhnya. toh pada dasarnya saya bukanlah mahasiswa yang baik secara totalitas. entah itu sebagai akademisi, aktivis, maupun  romantisi… hallaaahhh!!! Saya bukan akdemisi tulen, toh saya kadang sukar memahami rumus mata kuliah statistic. saya bukan aktivis hebat, toh saya sering lalai dalam menyuarakan hak rakyat. Saya juga bukan anti hedhonisme, toh saya senang bergaul dengan beberapa teman hedhon yang peduli terhadap sesama. Pun saya bukan mahasiswa gaul,  toh saya lebih sering memesan nasi lombok dibanding produk KFC.
Nikmati, dan lakukan yang terbaik. Kebanggan bukan tentang pengakuan, tetapi kepuasan batin dalam pencapaian kebaikan. berbuat baik itu sederhana, tidak perlu berambisi menjadi yang terbaik dengan menjadikan sekitar tampak buruk. Jika saling menghargai itu asik, kenapa memilih untuk arogan?
Akhir kata bersinergilah wahai mahasiswa, kakak-adek tidak masalah, tapi tujuan kuliah menjadi prioritas!!! Selamat sore dan Selamat memasuki Masyarakat Ekonomi Asean!!

Jumat, 03 April 2015

Ditinggal Kawin

Assalamu alaikum, apakabar temans?
Di Makassar… Jumat kali ini hujan, sama seperti jumat kemarin. Hujannya pun sama seperti hujan kemarin, yang jatuh dari langit masih berupa butiran air bukan bidadari. Oh iya bagaimana yang sudah jumatan tadi? Nampak lebih mudah 10 detik gak? Kalo tidak, maka yakinlah kalian tidak memakai cream anti aging tadi.

Oh iyya bebs, kalian tau tidak rasa air yang diturunkan dari langit barusan? Bukan tawar, manis, asin atau asam. Melainkan rasa sendu. Tau sendu kan? Iya, itu tuh temannya garpu.  Hehehe.
Sebenarnya ini sendu2 bahagia…
Tidak pernah merasakan sendu sendu bahagia bebs? Kodong banget yah kamu? 
Nah rasanya itu bisa dianalogikan seperti saat kita ke supermarket buat beli deterjen yang dikemasannya tertulis “berhadiah piring cantik”, pas sampai di loket pengambilan hadiah, piring cantiknya malah habis, mau diganti piring ganteng juga gak ada. Dan akhirnya pihak supermarket mengganti piring cantiknya menjadi 1 unit rumah mewah plus bisa nikahin penghuninya. Hahaha . Nah kira kira kurang lebih seperti itulah perasaan sendu sendu bahagia.

Apa gerangan yang membuat saya sendu sendu bahagia?
Jadi begini, semuanya berawal dari kesottakan (baca: sok tau). 
Macam konsultan romantisme gitu, saya biasanya bersikap sok memberi wejangan ketika sahabat saya mengalami konflik asmara.  Dan hingga saat ini pun masih banyak teman yang bersedia sharing masalah romantismenya. Bahkan ada yang nekat bawa ayam kampong 3 warna, tapi saya tolak mentah mentah. Bukannya takut dituduh gratifikasi, tapi  karena saya tidak mau yang mentah mentah saya mau yang sudah digoreng. hehehe.
Entahlah sayapun heran atas kepercayaan dan kesediaan mereka berbagi kisahnya, Padahal basicly saya tidak begitu paham tentang romantisme dan semacamnya. Atau mungkin karena sebagian dari mereka menilai saya tidak pernah mengeluh dan terlihat bermasalah dalam bidang romantisme sehingga mempercayakan saya sebagai orang yang bisa diandalkan. Hhehehe. 
Bagaimana mau bermasalah? secara saya ini masih polos dan memang belum mengerti tentang itu.

Tapi, saat itu saya yakin dengan prinsip saya bahwa ada kalanya kesottakan itu diperlukan sebagai starter senyuman dan tombol off kesedihan atas orang orang disekelilingmu. Yups, metode sotta sotta berhadiah memang diperlukan untuk membentuk standar deviasi  gurat senyum yang terkekang. Maka lakukanlah. Hehehhe.

Ketika mereview kesottakan yang pernah saya lakukan. Saya tersadar bahwa tidak semua kesottakan itu hanya menyisakan kebohongan, tetapi juga tidak jarang melahirkan sebuah kebenaran meskipun melalui peristiwa kebetulan. Mungkin saja kesottakan saya yang InsyaAllah berniat baik saat itu diamini oleh hati mereka yang selalu berharap pada kebaikan pula.

Kurang lebih 5 tahun lalu misalnya, saat itu saya dan teman saya (namanya acha) sharing tentang someone nya dia. Dan dengan kesottakan saya itu, saya bilang ke dia “eh bebs, kenapa saya yakin sekali kalo kaka itu jodohta?” Mungkin pada saat itu acha sendiri mengamini dalam hati, entahlah. Percakapan selanjutnya pun saya lupa, mungkin topik percakapan kami beralih ke goyang cayya2 briptu norman kamaru setelah itu.  
Alhamdulillah, siapa sangka kesottakan saya diijabah dan terbukti. Sekarang acha dan someonenya sudah mebentuk keluarga baru dan sebentar lagi akan dilengkapi dengan tangisan bayi. :)

Singkat cerita, ada moment dimana saya kembali menyottakkan diri dihadapan teman saya yang satu lagi (sebut saja namanya i sitti). Saat itu sitti lagi galau, susah tidur, bibir pecah pecah karena habis putus sama si doi. Dalam satu ranjang, diapun berkisah tentang beberapa someone dan “kakak”nya kepadaku. Maklum, berhubung saya ini orangnya perasa… akhirnya kuhapus airmatanya, ku lap ingu*nya lalu kukatakan  “kalo saya terawang lebih dalam kayaknya kaka anu ji itu jodohta”. Dengan gaya becanda. Sumpah bebs, saya tidak berniat menjadi peramal atau mendahului kehendak yang telah mengatur, pure ini murni hanya keisengan dan kesottakan saya.

Dan Alhamdulillah, akhirnya malam ini menjadi malam terakhir status gadis melekat di diri SITTI. Malam ini sitti telah mendahului mereka yang masih single untuk mengikat janji suci.
Nah, kesottakan saya membawa berkah kan bebs? Ayo selanjutnya siapa yang mau saya sottaki lagi supaya cepat nyusul…. Heheheh. Pendaftran terbatas loh.

Melalui coretan ini saya mohon maaf kepada teman2 utamanya si Sitti, tidak bisa ikutan berselfie dan menyaksikan ijab qabulnya, karena sesuatu dan lain hal diluar dugaan dan rencana .  
Tapi tenang saja doaku menyertaimu beb :*
Selamat buat sitti, semoga menjadi keluarga SAMAWA. Jadi istri yang baik, penurut, penyayang, pengingat, pemelihara. Semoga berhasil dunia akhirat dalam membina keluarga barunya.

Oh iya saya juga tadi sempat ikut milih kado sama anak2, hehehe. Saya yang milih warnanya loh. J

Tapi tau ndak? habis dari beli kado itu… si janggo’, nizar, atika, lia dan dewi, kemudian menurunkan saya di pinggir jalan berbekal satu stick ice cream. Tega kannn?!  Sudah ditinggal kawin diturunin dipinggir jalan lagi bebh L.


Maha Suci Allah yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui!¨
(Qs. Yaa Siin (36) : 36)

Kamis, 19 Maret 2015

Menolak Ingat


Assalamualaikum….
Semangat siang bebs, semoga berkah dan bahagia menyertai kita semua.
Seperti biasa, kalo otak lagi heng ngedit naskah yang sejatinya tidak linear dengan bidang keilmuan(ku), pilihan ketiga setelah ngemut coki2 dan memandangi batu bacanku, yah ngunjungi blog ini. Di sini saya bisa nyorat nyoret ngasal tanpa harus meremas kertas jika sekiranya tidak sesuai dengan aturan EYD (Ejaan Yang Dilebay lebaykan). Halllaahhh…

Lama tidak berkunjung ke blog ini, takutnya jadi lumutan dan jamuran karena sudah lama dibiarin kosong, mirip hatimu bebs. Hehehe.
Anyway, mungkin ini kali pertama saya mengunjungi blogku disiang hari, biasanya sih disaat malam. Sehingga pembahasannya yah paling sekitar ratapan ratapan rindu dari para responden jones. Ahhaii.

Hmmm… sebenarnya gak ada hal penting sih pembahasan coretan kali ini, cuman mau mengingatkan kalo ini hari jumat, besoknya hari sabtu dan lusa hari minggu, selasa, rabu, kamis, dan kembali ke jumat. Hehehe. Gak pentingkan?
Tapi ceritanya jadi penting kalo menyangkut kamu (nama disamarkan). Yups sdh kubilang kan?, saya selalu memantaumu di sudut nyata dan maya. Jadi jangan nakal. Jika tidak, berarti kamu tidak nakal. Hahaha. Apasihhh.

Melalui coretan ini, ada beberapa catatan yang ingin kutitip khusus pada si samar, jd maaf yah bebs kalian saya kantongin dulu di coretan ini. heheheh peace.
Eh kamu yang samar… tenang saja ini bukan catatan kredit, atau catatan hapalan rumus fisika, juga bukan catatan merah dari KPK mengenai track rekordmu. Yah bisa dibilang ini ultimatum mesra yang ingin kudedikasikan buat kamu. Lancangkan?? Hehehe.
Jadi, perhatikan sedetail mungkin, hayati dan perankan karena ini penting dan tidak akan kamu dapati pada NAWA CITA Bpk. Jokowidodo.

Intinya adalah jangan ada “menolak ingat” diantara kita. Adapun isi point sebagai berikut:
1.       Jangan lupa kalo kamu itu manusia
2.       Jangan lupa kalo kamu itu lakilaki
3.       Karena kamu lakilaki… maka jangan lupa kewajiban untuk shalat jumat
4.       Shalat jumatnya jangan lupa di Masjid dan menghadap kiblat
5.       Jangan bahas batu kalo khatib lagi ceramah
6.       Jangan lupa sedekah, tapi kalo kantongmu kosong, yaudah… ada kata bijak yang mengatakan “senyum itu sedekah”. Nah senyum saja ke kotak amalnya. heheh
7.       Nah yang paling penting, jangan lupakan orang terkasihmu setelahnya. Doakan mereka. Doakan Negara kita. Doakan pemimpin kita. Dan jika sempat, yah itupun jika kau tak malu pada Tuhan, doakan Aku… selipkan Aku ditiap harapanmu. 
Nah itu saja, lagian adzan sudah berkumandang, berjalanlah dengan gagah dibalik nyatamu yang kusamarkan. Eehh, tunggu dulu, kopiahnya miring, sini saya rapikan. Hehehhe.

Oh iyya, besok sabtu malam, jangan hiraukan kemacetan dan ritual satnite yang lebay di luar sana. Bukankah kita tidak pernah sepakat untuk melakukan ritual satnite? Yah selama ini diam diam kita hanya merindu, karena rindu tidak butuh kesepakatan dan kode etik. Tenang saja buaya dan cicak tidak akan marah, karena yang direpotkan hanyalah masing2 dari kita yang merindu.

Lagian kita bukan seperti mereka yang mengagungkan ritual macam itu, merugikan pemerintah, menambah kemacetan, dan menambah polusi udara yang hanya menyakiti paru2 alam. hehehe (padahal dalih).
Maaf jika tak sempat meng’kode kabar esok malam, soalnya sebentar sore saya dan teman berencana  take the road  ke kaki gunung, menyeruput kopi bersama masyrakat yang ramah di sana. yah lingkup yang terlepas dari tendensi. oh iyya, di sana gak ada sinyal, jadi maaf membuatmu merindu untuk sementara waktu.
Tapi tenang saja, setiap seruputan kopi, adalah aroma rindu yang menggantung di langit2 hidung. Setelah terteguk, aromanya hilang tapi semakin mendekat, di NADIku mungkin. 
Itu saja yah saya mo prepare rong... heheh

Nah buat bebs2ku, jangan cemburu ke si samar yah bebs? bukan salah dia kok, dia hanya beruntung.
Wassalam.

Teringat quote Sujiwo Tedjo  “adakah yang lebih romatis dari suara gesekan sandal ke aspal dan kibar suara sarung oleh laki laki menuju jumatan?”