Jumat, 03 April 2015

Ditinggal Kawin

Assalamu alaikum, apakabar temans?
Di Makassar… Jumat kali ini hujan, sama seperti jumat kemarin. Hujannya pun sama seperti hujan kemarin, yang jatuh dari langit masih berupa butiran air bukan bidadari. Oh iya bagaimana yang sudah jumatan tadi? Nampak lebih mudah 10 detik gak? Kalo tidak, maka yakinlah kalian tidak memakai cream anti aging tadi.

Oh iyya bebs, kalian tau tidak rasa air yang diturunkan dari langit barusan? Bukan tawar, manis, asin atau asam. Melainkan rasa sendu. Tau sendu kan? Iya, itu tuh temannya garpu.  Hehehe.
Sebenarnya ini sendu2 bahagia…
Tidak pernah merasakan sendu sendu bahagia bebs? Kodong banget yah kamu? 
Nah rasanya itu bisa dianalogikan seperti saat kita ke supermarket buat beli deterjen yang dikemasannya tertulis “berhadiah piring cantik”, pas sampai di loket pengambilan hadiah, piring cantiknya malah habis, mau diganti piring ganteng juga gak ada. Dan akhirnya pihak supermarket mengganti piring cantiknya menjadi 1 unit rumah mewah plus bisa nikahin penghuninya. Hahaha . Nah kira kira kurang lebih seperti itulah perasaan sendu sendu bahagia.

Apa gerangan yang membuat saya sendu sendu bahagia?
Jadi begini, semuanya berawal dari kesottakan (baca: sok tau). 
Macam konsultan romantisme gitu, saya biasanya bersikap sok memberi wejangan ketika sahabat saya mengalami konflik asmara.  Dan hingga saat ini pun masih banyak teman yang bersedia sharing masalah romantismenya. Bahkan ada yang nekat bawa ayam kampong 3 warna, tapi saya tolak mentah mentah. Bukannya takut dituduh gratifikasi, tapi  karena saya tidak mau yang mentah mentah saya mau yang sudah digoreng. hehehe.
Entahlah sayapun heran atas kepercayaan dan kesediaan mereka berbagi kisahnya, Padahal basicly saya tidak begitu paham tentang romantisme dan semacamnya. Atau mungkin karena sebagian dari mereka menilai saya tidak pernah mengeluh dan terlihat bermasalah dalam bidang romantisme sehingga mempercayakan saya sebagai orang yang bisa diandalkan. Hhehehe. 
Bagaimana mau bermasalah? secara saya ini masih polos dan memang belum mengerti tentang itu.

Tapi, saat itu saya yakin dengan prinsip saya bahwa ada kalanya kesottakan itu diperlukan sebagai starter senyuman dan tombol off kesedihan atas orang orang disekelilingmu. Yups, metode sotta sotta berhadiah memang diperlukan untuk membentuk standar deviasi  gurat senyum yang terkekang. Maka lakukanlah. Hehehhe.

Ketika mereview kesottakan yang pernah saya lakukan. Saya tersadar bahwa tidak semua kesottakan itu hanya menyisakan kebohongan, tetapi juga tidak jarang melahirkan sebuah kebenaran meskipun melalui peristiwa kebetulan. Mungkin saja kesottakan saya yang InsyaAllah berniat baik saat itu diamini oleh hati mereka yang selalu berharap pada kebaikan pula.

Kurang lebih 5 tahun lalu misalnya, saat itu saya dan teman saya (namanya acha) sharing tentang someone nya dia. Dan dengan kesottakan saya itu, saya bilang ke dia “eh bebs, kenapa saya yakin sekali kalo kaka itu jodohta?” Mungkin pada saat itu acha sendiri mengamini dalam hati, entahlah. Percakapan selanjutnya pun saya lupa, mungkin topik percakapan kami beralih ke goyang cayya2 briptu norman kamaru setelah itu.  
Alhamdulillah, siapa sangka kesottakan saya diijabah dan terbukti. Sekarang acha dan someonenya sudah mebentuk keluarga baru dan sebentar lagi akan dilengkapi dengan tangisan bayi. :)

Singkat cerita, ada moment dimana saya kembali menyottakkan diri dihadapan teman saya yang satu lagi (sebut saja namanya i sitti). Saat itu sitti lagi galau, susah tidur, bibir pecah pecah karena habis putus sama si doi. Dalam satu ranjang, diapun berkisah tentang beberapa someone dan “kakak”nya kepadaku. Maklum, berhubung saya ini orangnya perasa… akhirnya kuhapus airmatanya, ku lap ingu*nya lalu kukatakan  “kalo saya terawang lebih dalam kayaknya kaka anu ji itu jodohta”. Dengan gaya becanda. Sumpah bebs, saya tidak berniat menjadi peramal atau mendahului kehendak yang telah mengatur, pure ini murni hanya keisengan dan kesottakan saya.

Dan Alhamdulillah, akhirnya malam ini menjadi malam terakhir status gadis melekat di diri SITTI. Malam ini sitti telah mendahului mereka yang masih single untuk mengikat janji suci.
Nah, kesottakan saya membawa berkah kan bebs? Ayo selanjutnya siapa yang mau saya sottaki lagi supaya cepat nyusul…. Heheheh. Pendaftran terbatas loh.

Melalui coretan ini saya mohon maaf kepada teman2 utamanya si Sitti, tidak bisa ikutan berselfie dan menyaksikan ijab qabulnya, karena sesuatu dan lain hal diluar dugaan dan rencana .  
Tapi tenang saja doaku menyertaimu beb :*
Selamat buat sitti, semoga menjadi keluarga SAMAWA. Jadi istri yang baik, penurut, penyayang, pengingat, pemelihara. Semoga berhasil dunia akhirat dalam membina keluarga barunya.

Oh iya saya juga tadi sempat ikut milih kado sama anak2, hehehe. Saya yang milih warnanya loh. J

Tapi tau ndak? habis dari beli kado itu… si janggo’, nizar, atika, lia dan dewi, kemudian menurunkan saya di pinggir jalan berbekal satu stick ice cream. Tega kannn?!  Sudah ditinggal kawin diturunin dipinggir jalan lagi bebh L.


Maha Suci Allah yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui!¨
(Qs. Yaa Siin (36) : 36)