Jumat, 04 September 2015

OPAK bukan Orientasi Perkenalan Aku dan Kamu


Assalamu alaikum agangs, apa kabar? Ada yang rindukah dengan pencoret yang tidak bermutu ini? hehehe.
Sudah sore tapi di luar keliatannya masih terik, membuat kita yakin jika Indonesia kini tidak seadem Indomaret (bukan iklan). Namun beberapa hari yang terik bin panas ini, tempat yang padat manusia bukan di Indomaret, melainkan gedung gedung yang berlabelkan Universitas dan sejajarannya. Tanya kenapa?

Wadah kaum intelektual sedang ramai pengunjung. Terik dan panas tidak menjadi alasan untuk luput dari rasa bangga atas almamater yang sedang melekat di  tubuhnya. Saya pernah seperti mereka. Dan percayalah… disamping fenomena el nino seiring kemarau panjang, sekarang juga sedang terjadi fenomena kakak2an dan adek2an seiring dengan kehadiran MABA alias MAhasiswa BAru tersebut.
Tapi sebelum nyinggung soal MABA beserta modus modus yang terkandung di dalamnya, saya mau perkenalkan diri dulu deh. Mana tau ada yang pura2 lupa dgn perempuan penganut anti patjaranisme ini (ndak usah dibahas). Juga hitung2 mensosialisasikan pepatah yang sudah disaneering oleh Daeng Maman yang katanya “tak kenal maka ta’arufan”.
Nama saya mita, kadang dipanggil piyo, dan beberapa sebutan lain yang diberikan oleh mereka yang cuek terhadap histori penyembelihan kambing waktu saya berumur 2 minggu. Saya mantan MABA yang unyu unyu beberapa tahun lalu. Mantan MABA dari kampus hijau di kota Makassar. Maaf, bukan maksud menyombongkan diri sebagai manusia yg pernah makan bangku kampus, coretan ini cuma mau mengenang kembali  jaman tante MABA dulu nak. Hehehe. 
Gimana, sudah kenal dengan saya? Berarti sudah sayang dong? :D

Sebagai MABA, ada beberapa prosesi yang harus kita jalani sebagai “takdir rekayasa” yang membudaya. Salah satunya adalah keharusan menjalani masa orientasi yang kebanyakan orang lebih familiar dengan sebutan OSPEK. Belakangan ini beberapa Perguruan Tinggi kabarnya sudah tidak memberlakukannya, mungkin dengan beberapa pertimbangan yang kemudian diamini sebagai kebijakan. Ataukah adanya pergeseran aplikasi yang keliru terhadap tujuan mulia sebuah OSPEK. tapi, kali ini coretanku tidak akan membahas atau memposisikan diriku sebagai garis pro maupun kontra mengenai kebijakan. Terlalu kaku bebs. Toh kacamataku sedang hilang, saya ragu penilaianku akan menimbulkan penilaian kaca mata kuda yang tidak objektif.
Berbicara OSPEK, kalo di kampusku dulu namanya OPAK, singkatan dari Orientasi Pengenalan Akademik. Tapi ada juga yang nakal mengasumsikannya sebagai Orientasi Perkenalan Aku dan Kamu. Nah loh?! Momen ini paling dinanti nanti oleh senior terlebih lagi senior jones yang terancam DO. Heheehe peace….
Sebagian menganggap OPAK sebagai lahan produktif bagi para senior untuk menegaskan eksistensinya sekaligus menyeleksi MABA mana yang akan dijadikan “adek” tanpa harus berhadapan dengan komisi perlindunan anak. Dengan demikian, terjalinlah hubungan kakak2an dan adek2an. 
Sekali lagi saya pernah MABA, tapi saya bukanlah MABA yang termasuk dalam list incaran “adek2an”. Entahlah, mungkin karena saya kurang menarik pada saat itu. Ataukah karena sering bolos OPAK, sehingga kakak senior nyaris tidak sadar kalau ada “adek” manis yang luput dari pandangan. Hahahah.  Maklum, saat itu saya sedang sibuk2nya mengais rejeki sebagai tindakan antispatif jika harga BBM yang selalu linear terhadap harga lainnya mengalami kenaikan.
Ketika OPAK berlangsung, saya lebih senang mengambil barisan paling belakang. sok mengamati karakter MABA  lain yang datang dari berbagai penjuru, sambil diam2 mengagumi beberapa sosok menarik di hadapanku. Kurasa opsi tersebut sudah sangat bijak untuk menghindari kebosanan retorika dan aksi dari beberapa kaum yang mengaku intelek.
Dari hasil pengamatanku, MABA yang masuk list incaran modus adek2an adalah MABA yang paling menonjol dan mendapat pengakuan “cantik” berdasarkan hasil diskusi bisik2 senior. Dalam kondisi ini, definisi cantik tidak lagi bersifat relative melainkan sebuah kesepakatan kakak2an, ibarat permainan issue di bursa saham. Layaknya investor, para kakak pun mengatur strategi untuk melakukan persaingan bebas yang berdampak pada efek monopili sebuah produk, dimana produk tsb  tidak lain adalah si adek. Ketika adek sepakat termiliki, maka dipublikasikanlah dengan tujuan usaha si kakak menjadi go public. Dengan demikian, value si kakak pun menjadi naik ratingnya.
pusingkan dengan uraian coretanku? Yess, akupun. hahaha 

Sederhananya, MABA yang masuk dalam chart  terpopuler adalah mereka yang menjadi incaran oleh banyak senior (jumlahnya melebihi jumlah warna balon dalam lagu ”Balonku”). Dan yah… ketika saya mencoba mengurainya dalam chart, saya menemukan diriku di kolom  degradasi. ohmegat!! deretan paling bawah deh pokoknya. Haruskah saya mempertontonkan atraksi saltoku sekedar mencuri perhatian sekitar? Ah kurasa itu terlalu cepat. 
Tapi tunggu dulu, saya membenarkan bahwa beberapa MABApun sebenarnya senang memberi umpan lambung terhadap senior. MABA juga kadang modus buat curi2 perhatian kok. kadang ada junior yang dikit2 nanya sesuatu (padahal) tidak penting dengan gaya yang dialay2kan, ada juga yang beracting sakit agar bisa  mendapat perhatian, bahkan ada yang pura2 amnesia lupa jalan ke toilet supaya bisa di antar oleh si kakak. Banyak deh modus konyol lainnya. Dalam posisi ini, analogi bursa saham gak cocok buat si adek. Mungkin lebih  cocock jika dianalogikan sebagai produk yang di promosikan melalui  sales door to door. Hehehe.

Tidak sampai disitu investigasi sok tau yang kulakukan. Heheheh.  saat menjadi seniorpun, saya masih iseng mengamati fenomena MABA. Saat itu saya penasaran bagaimana rasanya modusin junior, sekalian mengukur sejauh mana kemampuan saya dalam hal modus memodus dan bagaimanakah  “menariknya” saya di mata mereka. Saya tidak ingin kejadian yang dialami Idolaku; BJ Habibie terulang. Dimana dia kecewa karena Negara baru mengakui kemampuan IQnya yang ternyata melebihi IQ Albert Enstein (yang juga idolaku). Tujuan beliau bukan untuk menyombangkan diri, setidaknya kita bisa mengabarkan pada dunia bahwa Negara mereka tak lebih hebat dari Negara kita. Yes… dialah salah satu idolaku, Beliau muslim tercerdas di dunia! Tokoh dari SULSEL yang diberi gelar “Mr.crack” karena penemuan teorinya.  Presiden ke 3 Indonesia yang berhasil membuat rupiah menguat,  ketika rupiah berkisar Rp. 10.000 – Rp.15.000 justru kepemimpinannyalah  rupiah menguat ke Rp. 6.500/dolar Amerika. nilai yang tidak pernah terjadi lagi sampai saat ini.
Oke lanjut bebs…
bermodal kepolosan, retorika ngasal, dan mimik memelas, saya kemudian menyatakan “perasaan” ke beberapa junior di waktu yang berbeda. Dari uji coba tersebut, alhasil 2 dari 10 junior yang saya tembak itu memberi jawaban yang ngegantung, dan selebihnya menolak bebs… NOLAK??!! OHMEGAAAT!! urutan degradasi lagi kemampuanku? Gila gak tuh??? Saya baru percaya bahwa arti dari masalah adalah ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan. That’s problem bebs!!! Tapi okelah, tidak perlu dibahas lebih lanjut analisisnya.  Saya percaya kalian punya interpretasi atas kejadian penolakan tersebut. :D
Sayangnya, momen OPAK saat itu tidak berjalan tuntas. Terjadi gejolak yang entah siapa lawan siapa. Tepatnya 1 september 2010, gemuruh, teriakan,  lelarian, dan rasa panik tercover di kampus peradaban itu. Kampus bergejolak dan mengakibatkan beberapa senior diDrop Out. Momen dimana saya menyaksikan dan merasakan  berhadapan dengan situasi badik takbu’bu. Sekali lagi, saya bukan sejarawan yang tak perlu ragu menulis kejadian. Bagiku sejarah adalah nyata, namun kebenarannya tidak dapat ku pastikan.

Melalui coretan ini, saya tidak berhak memberi saran mengenai eksistensi mahasiswa seutuhnya. toh pada dasarnya saya bukanlah mahasiswa yang baik secara totalitas. entah itu sebagai akademisi, aktivis, maupun  romantisi… hallaaahhh!!! Saya bukan akdemisi tulen, toh saya kadang sukar memahami rumus mata kuliah statistic. saya bukan aktivis hebat, toh saya sering lalai dalam menyuarakan hak rakyat. Saya juga bukan anti hedhonisme, toh saya senang bergaul dengan beberapa teman hedhon yang peduli terhadap sesama. Pun saya bukan mahasiswa gaul,  toh saya lebih sering memesan nasi lombok dibanding produk KFC.
Nikmati, dan lakukan yang terbaik. Kebanggan bukan tentang pengakuan, tetapi kepuasan batin dalam pencapaian kebaikan. berbuat baik itu sederhana, tidak perlu berambisi menjadi yang terbaik dengan menjadikan sekitar tampak buruk. Jika saling menghargai itu asik, kenapa memilih untuk arogan?
Akhir kata bersinergilah wahai mahasiswa, kakak-adek tidak masalah, tapi tujuan kuliah menjadi prioritas!!! Selamat sore dan Selamat memasuki Masyarakat Ekonomi Asean!!