Selasa, 12 Januari 2016

Menggugat Sujiwo Tejo



Senjaku menggugat…
Tidak ada aroma kopi di ujung sore, kopi yang kata A.H adalah media pelarian. Pelarianku menanti saat dimana siluet tangan kiri kita membujuk gunung menyembunyikan mentari di beberapa senja mendatang.

Cangkirku pun menggugat…
Cangkirku adalah loyalis sejati, tidak peduli sepekat apa warna yang kusiramkan, pada derajat celcius berapa yang kutuangkan. iya pasrah terhadap nasib kosongnya yang menganga, seakan tak sengaja merepresentasikan hati para jomblo. Jika cangkirku sudah begitu pasrah, harusnya tidak adalagi yang memperdebatkan indikator kepantasan  populasi penikmat kopi.
Namun tidak dengan mbah Sudjiwo Tedjo. Presiden Republik Jancukers itu mencoba mengubah pola konsumtif rakyatnya dengan asumsi bahwa kopi dan rokok adalah dua variabel yang menyatu dalam satu partikel. Ia heran terhadap manusia yang suka ngopi tapi tidak ngerokok. Jika ia heran dengan hal seperti itu, harusnya ia lebih heran pada ke-akuan-nya, manusia berambut panjang tapi berkumis. hehehe… (ampun mbah)

Hatiku menggugat sujiwo tejo…
Ahh sia*! saya lupa beliau adalah presiden, penguasa di sebuah negara yang proses terbentuknya tak banyak orang paham, apakah melalui proses perjuangan menuju kemerdekaan ataukah melalui ledakan big bang. Jika ku gugat, pastinya barisan some people loyalists beliau akan menyerangku. sementara aku? hanya bertumpu pada something loyalis… yah sebuah cangkir yang pasrah.

Mbah… di ujung senja ini maaf jika saya berharap Tuhan mencukupkan rezekimu sebagai presiden jancukers yang profesional, berharap asumsimu ini bukan strategi kode keras kepada produsen rokok mengenai niatanmu menjadi  celebrity endorser. ;)
Harusnya mbah tidak menyembunyikan pemahamannya bahwa Kopi adalah Kebutuhan gender praktis, kebutuhan yang diidentifikasi dapat menolong kaum perempuan dalam posisi subordinatnya di masyarakat. Kebutuhan yang mampu memanipulasi sekitar bahwa dia adalah jiwa yang kuat. Di lain maksud, ia sedang berusaha menginstruksikan tentang cara sederhana untuk berdamai dengan rasa. Seperti sepenggal kutipan dalam cerpen Titipan Sebotol Hujan Untuk Sapardi: "Kopi dan saya tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang lebih pahit"
Mbah… sebenarnya marahku ini sekaligus kode kepada dia (yang entah siapa). Kode kepada someone yang pastinya akan jauh lebih berarti dari something loyalis,   someone yang kelak akan memiliki beberapa “sebab marah” padaku.
Marah ketika saya lupa memakai lotion anti nyamuk saat mengetik, lalu akan kudiamkan beberapa detik kemarahannya sambil mencari icon shutdown, dan bergegas kubayar kemarahannya dengan segelas kopi keadilan rasa.
Marah ketika aku membaca sambil berbaring, lalu dengan sigap kusandarkan kepalaku pada pundaknya yang ikhlas, bercakap tentang ide, tentang rencana2 besar, sesekali menyelinginya tentang kelucuan hidup yang harus ditertawai.
Marah yang seperti ini tak masalah kan? Kata tetangga temanku, antara marah bernada kritikan dan marah bernada hinaan itu beda tipis. Serupa tapi tak sama, yang membedakan adalah cara dan niatnya. Kelak marah kita (iya.. aku dan kamu) adalah cara menguatkan akar, bukan cara membakar pohon.

Dan semoga kata aamiin selalu mendarat pada doa yang baik. Seperti rindu yang selalu mendarat pada dinding coretanku ini. coretan yang konsisten dengan ketidak konsistenan genrenya yang uncontrollable, kadang sok radikal, sok liberal, sok idealis kadang juga sok puitik dan romantis. Mencoret adalah caraku mendeskripsikan fajar, siang, senja, dan malam. Mencoret adalah caraku menyatukan kejujuran dan kebohongan tanpa mengkompromikan keduanya. Mencoret adalah caraku merayakan kemerdekaan indvidual tanpa terikat pada keharusan universal. Coretanku adalah otoritasku bermain dengan kata, bercakap dengan apa yang samar.

Posting Komentar